Infertile Couple dalam Mempertahankan Hubungan Pernikahan

Pernikahan merupakan implikasi praktis dari cinta. Setidaknya hal inilah yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Hal ini juga ditunjang dari adanya suatu survei, dimana hal yang paling mendasari sebuah pernikahan terlihat dari respon mayoritas (36%) subjek yang menyatakan  ‘because we are in love’ (Patterson and Kim, dalam Williams, dkk, 2006). Namun demikian, untuk memahami alasan mengapa seorang individu membina suatu hubungan pernikahan tidaklah semudah itu.

Banyak hal yang mendasari keputusan individu untuk menikah. Terlepas dari alasan-alasan yang begitu variatif, terdapat benang merah yang mendasari keputusan tersebut. Disadari maupun tidak, menikah merupakan suatu kebutuhan. Pasalnya, alasan mendasar seseorang dalam membangun suatu hubungan pernikahan adalah adanya kebutuhan akan suatu kehangatan, daya pikat fisik, serta keterkaitan satu sama lain (Miller, 2007). Tak hanya itu, hal lain yang mendasari keputusan seseorang untuk menikah juga merupakan suatu bentuk untuk mengatasi kesendirian. memperoleh kebahagiaan, serta adanya kerinduan untuk memiliki anak (Patterson and Kim, dalam Williams, dkk, 2006).

Terkait dengan salah satu alasan tersebut, kehadiran anak merupakan suatu indikator penting yang menentukan tingkat keberhasilan sebuah pernikahan (Patterson and Kim, dalam Williams, dkk, 2006). Memiliki anak dan menjadi orang tua merupakan suatu periode kehidupan yang menandakan adanya perubahan status sosial yang begitu diharapkan dari adanya suatu hubungan pernikahan (Williams, dkk, 2006). Meskipun membesarkan seorang anak tidak harus melalui hubungan pernikahan, adanya tekanan sosial masyarakat tertentu seolah memvalidasi pentingnya memiliki dan membesarkan anak biologis yang diperoleh dari sebuah pernikahan (Williams, dkk, 2006).

Hanya saja pada kenyataanya, tidak sedikit pasangan yang tidak mampu memiliki anak. Kondisi ini secara kontradiktif menentang sebuah konsep ideal dari sebuah pernikahan. Seiring dengan berkembangnya zaman, jumlah pasangan yang tidak subur (infertile) kian meningkat. Berdasarkan hasil survei, sebesar 15-20% dari pasangan suami-istri di USA dinyatakan infertile (Keye, dalam Higgins, 1990). Prevalensi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia, dimana 10-15% pasangan suami-istri dinyatakan infertile (www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/9/18/kel4.html).

Pasangan yang mengalami kondisi yang tidak diharapkan seperti ini, tentunya mengalami dampak yang mengenaskan, baik secara fisik maupun psikologis. Secara fisik, kondisi ini berdampak pada penurunan gairah seksual serta rasa nyeri yang mungkin dialami dalam upaya mengikuti prosedur medis meningkatkan kesuburan. Di sisi lain, secara psikologis, rasa berduka, marah, dan depresi sangat mungkin terjadi. Pada kasus ekstrim kecenderungan untuk melakukan upaya bunuh diri juga ditemukan (Bernstein, Potts, & Mattox, dalam Higgins, 1990). Selain itu, kondisi ini juga bisa berdampak dalam kehidupan sosial, dimana ada kecenderungan pasangan menjadi kurang percaya diri dan berusaha menghindar dari jaringan sosialnya. (Burns, 1987; Link & Darl- ing, 1986, dalam Higgins, 1990).

Fenomena ini merupakan sebuah realitas yang tidak bisa dipungkiri. Ketidakmampuan memiliki seorang anak jelas bukanlah sebuah hal yang diharapkan oleh pasangan suami-istri dalam membangun sebuah pernikahan. Dampak fisik, psikologis, dan tekanan sosial yang mereka hadapi bisa juga berdampak pada hubungan pernikahan yang mereka bangun. Hanya ada dua pilihan yang tersedia: memutuskan hubungan atau meneruskannya. Tidak sedikit pasangan yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, hanya segelintir saja yang pada akhirnya tetap mempertahankan hubungan tersebut (Kohler, dkk, 2005). Lantas persoalannya adalah hal apa yang mungkin segelintir pasangan lakukan untuk dapat terus mempertahankan hubungan pernikahan mereka? .

Menghadapi pelik seperti ini sangatlah tidak mudah. Merupakan hal yang sangat manusiawi jika seseorang yang memutuskan untuk menikah berharap untuk mampu memiliki anak, memainkan peran sebagai orang tua. Lantas ketika realitas yang ada mengukung keinginan tersebut, sebuah konflik terjadi. Tidaklah heran kemudian, jika banyak dari pasangan yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Pemutusan merupakan tahap memutuskan ikatan yang mempertalikan kedua pihak akibat gagalnya usaha perbaikan yang  sudah dilakukan (Davito, 2003). Alasan utama yang mendasari pemutusan tersebut adalah adanya ketidakpuasan seseorang terhadap hubungan tersebut (Davito, 2003). Prinsip ini juga bisa dijelaskan melalui social exchange theory dimana hubungan dapat berkembang bila hubungan tersebut memberikan kemungkinan pada individu yang terlibat untuk  mamaksimalkan keuntungan yang akan diperoleh (Davito, 2003). Ketika keuntungan yang diperoleh seseorang tidak dapat lagi dimaksimalkan oleh pasangan yang infertile maka hubungan tersebut tidak dapat berkembang lagi. Lebih jauh lagi, equity theory menjelaskan bahwa individu akan mengembangkan dan mempertahankan sebuah hubungan bila perbandingan reward dan cost yang individu alami sama dengan yang dialami oleh orang lain (Davito, 2003). Lantas, ketika tidak memiliki anak dianggap sesuatu yang tidak menguntungkan tidak ada lagi alasan seseorang untuk terus mempertahankan hubungannya.

Hanya saja, kontradiksi dengan pandangan-pandangan tersebut, penulis meyakini bahwa keputusan untuk mengakhiri sebuah hubungan pernikahan karena ketidakmampuan pasangan dalam memiliki anak bukanlah suatu keputusan yang bisa dilegalkan begitu saja. Toh pada kenyataanya, masih ada segelintir pasangan yang mampu mempertahankan hubungan mereka. Penulis lantas berasumsi bahwa adanya pemahaman yang tepat dalam memahami sebuah hubungan pernikahan membantu pasangan untuk menghadapi setiap permasalahan yang mereka hadapi, serumit apapun itu. Sebab, orang yang merasa sangat terikat dengan hubungan dan pasangan mampu lebih baik mengatasi setiap masalah yang dialami dengan lebih baik dan lebih mampu mempertahankan tingkat kepuasaan dari suatu hubungan (Pittrad, 2008). Hal inilah yang menjadi fokus kajian dari penulisan esai yang penulis angkat, yakni meninjau aspek-aspek yang mendasari pasangan infertile dalam mempertahankan hubungan pernikahannya. Penulisan ini akan dibangun berdasarkan dasar-dasar teori serta hasil-hasil penelitian yang menunjang argumentasi penulis.

Pasangan yang mengalami kondisi yang kurang subur (infertile) merupakan sebuah polemik yang berdampak pada suatu hubungan. Sikap pria dan wanita terhadap permasalahan ini turut berkontribusi dalam menentukan kualitas hubungan ketika menghadapi permasalahan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pasangan cenderung melihat sebuah ketidaksuburan merupakan masalah yang berasal dari pihak istri (Greil, dkk, 1988). Miskinnya komunikasi merupakan pemicu utama dari retaknya hubungan pasangan yang infertile (Greil, dkk, 1988). Selain itu, hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa masalah yang umumnya dialami oleh pasangan infertile terlihat dari meningkat konflik rumah tangga yang dialami serta berkurangnya kepuasaan dalam berhubungan intim sebagai implikasi dari kurangnya keterlibatan suami dalam memberikan dukungan moril dimana pihak suami cenderung menyalahkan sang istri (Andrews, dkk, 1991). Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa pihak istri cenderung mengalami stress dan depresi yang lebih berat dibandingkan suami dalam menghadapi infertility (McQuillan, dkk, 2003).

Berdasarkan data penelitian yang ada, terlihat jelas bahwa kondisi infertile memiliki dampak yang sangat besar terhadap aspek fisik maupun psikologis pasangan, khususnya pihak wanita. Namun kondisi ini pada dasarnya bisa diatasi dengan baik. Berdasarkan hasil dari sebuah penelitian longitudinal selama 33 bulan yang dilakukan oleh Daniluk dan Trench (2007) menunjukkan bahwa pada dasarnya pasangan yang tidak mampu memiliki keturunan akan mampu melakukan penyesuaian diri terhadap masalah tersebut. Meskipun demikian, proses yang terjadi tidaklah mudah. Pasangan pada awalnya akan mengalami tahapan berduka terlebih dahulu (Ross dalam Daniluk&Trench, 2007).  Pada periode awal pasangan akan mengalami tahapan denial. Seiring dengan upaya treatment medis yang dilakukan untuk mendapatkan keturunan, kegagalan seringkali membuat pasangan mengalami periode anger. Periode ini merupakan periode critis yang menjadi acuan terhadap bagaimana hubungan pernikahan tersebut nantinya. Dari 38 pasangan yang menjadi subjek penelitian, beberapa diantaranya menyerah dan mengakhiri hubungan pernikahan pada periode anger ini. Pasangan yang bertahan ketika tetap meneruskan treatment dan terus mengalami kegagalan memasuki periode depresi dimana semakin banyak pasangan yang akhirnya memutuskan hubungan. Namun demikian, sebanyak 16 pasangan pada akhirnya mampu memasuki periode acceptance dan 3 pasangan yang pada akhirnya mendapatkan hasil dari treatment yang dilakukan. Indikasi yang menentukan keberhasilan pasangan mencapai periode acceptance secara umum disebabkan oleh adanya social support yang diberikan oleh keluarga, teman, dan kerabat sehingga pasangan-pasangan tersebut mendapatkan penguatan untuk tetap bertahan dalam kondisi sulit sekalipun

Hasil penelitian ini semakin menguatkan argumentasi penulis bahwa ada hal yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankan hubungan. Meskipun peluang keberhasilan dari berbagai treatment medis yang ada relative kecil, banyak hal lain yang pada dasarnya bisa diupayakan oleh pasangan dalam mempertahankan hubungan pernikahaan mereka. Komonukiasi yang baik dan sikap saling terbuka terbukti mampu mengatasi masalah yang dihadapi pasangan infertile dan mampu meningkatkan kembali kualitas hubungan (Andrews, dkk, 1991).

Adanya komunikasi yang baik serta sikap saling terbuka pada dasarnya dimiliki oleh pasangan yang mendasari hubungan pernikahannya pada pemahaman  akan cinta yang utuh. Sebuah pernikahan akan menjadi sebuah hubungan yang kuat dan positif jika didasari oleh semua unsur-unsur cinta yang ada, yakni intimacy, passion, dan commitmen (Sternberg, 1988). Kondisi ini disebut juga sebagai consummate love. Namun pada kenyataan yang ada, seringkali sebuah hubungan pernikahan hanya didasari romantic love yang hanya mencakup unsur intimacy dan passion saja (Miller, 2007). Kurangnya komitmen membuat pasangan kurang mampu menghargai hubungan yang mereka jalani dan membuat individu dengan mudahnya mengakhiri hubungan ketika intimacy dan passion tidak lagi dirasakan (Miller, 2007). Selain itu, sebuah hasil penelitian juga menemukan bahwa kaum dewasa di Amerika menganggap dalam romantic love, pernikahan merupakan hal yang sangat dibutuhkan (Simpson, Campbell, & Berscheid dalam Miller, 2007).

Komitmen yang merupakan salah satu unsur dari consummate love juga merupakan fondasi penting dalam mempertahankan suatu hubungan (Berscheid&Regan, 2005 Individu yang memiliki komitmen terhadap pasangannya cenderung akan mempertahankan dan meneruskan hubungan dengan pasangannya (Reesing & Cate, dalam Miller, 2007). Tak hanya itu, pasangan tersebut juga akan menunjukkan pola perilaku yang berbeda.

Pasangan pada romantic love yang memiliki komitmen untuk terus bersama terhadap pasangannya akan mempersepsikan diri mereka sebagai bagian dari hubungan tersebut, bukan sebagai diri yang terpisah (Rusbult, dll, dalam Miller 2007). Ketika salah satu pasanganya mengalami masalah (dalam hal ini ketidaksuburan) maka pasangan tersebut akan memandangnya sebagai bagian dari diri mereka yang harus diselesaikan bersama. Selain itu, pasangan yang memiliki komitmen dalam menjalani hubungan akan lebih mampu mengeksplorasi aspek-aspek positif dari pasangannya daripada sekedar kekurangannya saja (Murray, dkk, dalam Miller 2007).

Karakteristik utama lain yang menjadi ciri dari consummate love juga terlihat dari konten-konten yang memenuhi hubungan tersebut (Canary & Stafford dalam Miller, 2007). Konten-konten tersebut berupa adanya keterbukaan, kepedulian, saling berbagi, serta sikap yang positif terhadap pasangannya. Hubungan yang dipenuhi konten-konten tersebut berimplikasi pada tingkat kepuasaan yang sangat tinggi terhadap hubungan yang dijalani (Miller, 2007). Lebih jauh dari itu, Pasangan yang bahagia dan puas terhadap hubungannya akan cenderung  melihat dan menjelaskan perilaku pasangannya dengan melihat segala aspek-aspek positif yang dimiliki pasangannya bahkan dalam menghadapi permasalahan sekalipun (Miller, 2007). Pasangan akan menunjukan kepeduliaan terhadap pasangannya pada kondisi-kondisi sulit sekalipun termasuk dalam menghadapi kenyataan bahwa dirinya tidak subur (infertile).

Berangkat dari pemahaman yang ada, sangatlah jelas terlihat bahwa pada dasarnya masih ada cara yang bisa dilakukan oleh pasangan infertile dalam mempertahankan dan memperbaiki hubungannya. Perasaan berduka, marah, dan depresi sangatlah wajar terjadi pada kondisi seperti ini. Persoalannya kini terletak pada hal apa yang mendasari individu tersebut untuk menikah. Pada dasarnya, pemahaman akan komitmen dan cinta secara utuh sangatlah penting dalam mempertahankan sebuah hubungan.

Daftar Pustaka

Berscheid, Ellen., Regan, P. (2005). The Psychology of Interpersonal Relationships. New Jersey : Pearson Educational, inc.

Devito, Joseph A. (2003). Human Communication The Basic Course (9th ed). Boston: Allyn and Bacon Inc.

Miller, R,S., dkk, (2007). Intimate Relationships (4th ed). USA: McGraw Hill, inc.

Williams, B.K. dkk, (2006). Marriages, Families, and Relationships (A practical Introduction). USA: Pearson Educational Inc.

 

Infertility: His and Hers Author(s): Arthur L. Greil, Thomas A. Leitko, Karen L. Porter Source: Gender and Society, Vol. 2, No. 2 (Jun., 1988), pp. 172-199 Published by: Sage Publications, Inc. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/190494 Accessed: 30/11/2009 03:32

Stress from Infertility, Marriage Factors, and Subjective Well-being of Wives and Husbands. Author(s): Frank M. Andrews, Antonia Abbey, L. Jill Halman Source: Journal of Health and Social Behavior, Vol. 32, No. 3 (Sep., 1991), pp. 238-253 Published by: American Sociological Association Stable URL: http://www.jstor.org/stable/2136806 Accessed: 30/11/2009 03:36

Long-Term Adjustment of Infertile Couples Following Unsuccessful Medical Intervention. Author(s): Judith C Daniluk; Elizabeth Tench Journal of Counseling and Development : JCD; Winter 2007; 85, 1; ABI/INFORM Global.

Couple Infertility: From the Perspective of the Close-Relationship Model. Author(s): Barbara S. Higgins Source: Family Relations, Vol. 39, No. 1 (Jan., 1990), pp. 81-86 Published by: National Council on Family Relations Stable URL: http://www.jstor.org/stable/584953 Accessed: 30/11/2009 03:30

Partner + Children = Happiness? The Effects of Partnerships and Fertility on Well-Being. Author(s): Hans-Peter Kohler, Jere R. Behrman, Axel Skytthe Source: Population and Development Review, Vol. 31, No. 3 (Sep., 2005), pp. 407-445 Published by: Population Council Stable URL: http://www.jstor.org/stable/3401473 Accessed: 30/11/2009 03:39

Frustrated Fertility: Infertility and Psychological Distress among Women. Author(s): Julia McQuillan, Arthur L. Greil, Lynn White, Mary Casey Jacob Source: Journal of Marriage and Family, Vol. 65, No. 4 (Nov., 2003), pp. 1007-1018 Published by: National Council on Family Relations Stable URL: http://www.jstor.org/stable/3599906 Accessed: 30/11/2009 03:24

Referensi:

Data statistik: (www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/9/18/kel4.html).

Tidak diperkenankan melakukan plagiarisme dalam bentuk apapun! Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.