Tentang alasan: kenapa Tuhan membiarkan manusia jatuh ke dalam pencobaan?
Suatu momen, terjadi percakapan antara dua orang manusia.
paman: “menurut kamu, kenapa Tuhan membiarkan manusia mengalami pencobaan?”
keponakan: “ya rada klise sih, mungkin karena Tuhan tahu kalau pencobaan tersebut bisa dilalui oleh umat-Nya!”
paman: “apa dasarnya kamu ngomong begitu?”
keponakan: “ya kan soalnya di Alkitab bilang kalau pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. karena pada dasarnya Tuhan ga akan pernah membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita! bukannya begitu ya?”
paman: “tapi bukan itu jawabannya, yang tulang tanya.. kenapa Dia membiarkan seorang manusia jatuh dalam pencobaan? alasan yang mendasari izin Tuhan?”
keponakan: “ehm, kalau nanya kenapanya ya mungkin cuma Tuhan yang tahu, karena kan pasti beda-beda alasannya!”
paman: “kalau begitu, kenapa masih banyak orang yang terus mengeluh?”
keponakan: “yah karena mereka merasa jadi korban barangkali, hehe”
paman: “nah, mereka merasa jadi korban karena mereka ga paham alasan Tuhan kasih pencobaan ke kita!”
keponakan: “maksudnya?”
paman: “coba kamu pikir, manusia itu punya sifat alamiah untuk terus membanding-bandingkan apa yang dimilikinya dengan apa yang dimiliki orang lain dalam hidupnya. Kita cenderung menyalahkan Tuhan dan mempertanyakan dimana letak keadilan itu. Seperti, ‘Kenapa mesti saya yang mengalami ini, kenapa bukan mereka?’. ‘kenapa hidup mereka jauh lebih bahagia dari hidup saya?’.
keponakan: “yah wajar dong lang, namanya juga manusia..”
paman: “nah itu dia masalahnya, kita terlalu lelah mengasihani diri sendiri, sampai kita hilang kepekaan. hilang esensi dasarnya!”
keponakan: “maksudnya gimana lang?”
paman: “tadi kan kamu yang bilang, kalau alasan yang mendasari Tuhan memberikan cobaan ke manusia beda-beda.. coba kamu kritisi, kenapa Dia punya alasan yang beda-beda? apa itu artinya tidak adil?”
keponakan: “hmm, adil ga yah? ya namanya juga pikiran Allah, ga bisa terselami lang!, hehe”
paman: “memang betul, ga akan pernah bisa diselami, tapi sebenarnya ini sederhana sekali! Tuhan membiarkan masing-masing dari kita menghadapi pencobaan karena Dia ingin membentuk karakter-karakter tertentu dalam dirimu! Dia ingin membentuk kamu, membentuk amores menjadi sosok yang Tuhan inginkan ada dalam dirimu!”
keponakan: terdiam, mengalami disonansi kognitif…
paman: “jadi jangan pernah takut menghadapi hari esok, biarkan saja Tuhan membentuk karakter tertentu dalam dirimu.. ga perlu lagi kita pertanyakan kenapa cuma diri kita yang mengalami.. ga perlu lagi kita pertanyakan kenapa orang lain tidak mengalami.. ga perlu lagi, karena yang pengen Tuhan bentuk dalam diri mu adalah karakter-karakter istimewa, yang tidak dimiliki oleh orang lain!”
Sang keponakan pun akhirnya speechless ga sanggup berkata apa-apa, hanya berguman dalam hati:
“terlalu benar untuk disangkal.. mungkin memang benar, saya kurang peka selama ini!!”