Gurat Hidup.
Wajahnya penuh gurat. Aku yakin setiap gurat yang tersanding diwajahnya pasti memiliki nilai historis yang tinggi. Tak diragukan lagi.
Sore ini sama seperti sore-sore lainnya. Yang berlalu terus, hingga remang malam menjemput.
Dan disana ia berdiri. Menyeka peluh yang sempat menetes dari dahi rapuhnya. Usianya tak muda lagi, memang. Setengah abad lebih ia struggle menyelesuri dinamika hidup. Tunggu. Rasanya kurang tepat jika saya menyebutnya ‘dinamika’ hidup. derita hidup. kurasa itu tepat. Hidupnya tak pernah naik, selalu turun.
Tapi tak masalah. Ia toh tak pernah mengeluh. Pernah, namun tak lagi. Buat apa? Toh jerit tangis tak mengubah apapun. Keringat satu ember banyaknya juga tak berdampak. Doa sampai mulut berbusa, bahkan tak mengubah hidupnya.
Karena Memang Ini Takdir
Begitulah Mbok Iyem menghayati hidupnya. 65 Tahun sudah usianya. Punggungnya bungkuk, terlalu berat menanggung semua ini sendirian. Tangannya kasar, rusak karena bahan deterjen yang kerap kali menemaninya dari rumah ke rumah.
Dia kuat. Aku bergumam.
Potretnya jelas. Begitu jelas, saat aku melihatnya berdiri di sana.
Dia Hanyalah Korban.
dari suaminya yang tak bertanggung-jawab.
dari anak laki-laki satu-satunya yang tak tau diuntung
dari Ayah kandungnya yang bajingan
dari hidup yang tak pernah bisa untuk dipahami.
Dan aku mengingatnya. Potretnya jelas. Begitu jelas, setiap kali aku melihatnya berdiri di sana.
Dengan peluh yang mengalir lalu menetes
Dengan setiap gurat yang menggores wajahnya.
Dan kini ia di sini. Tertidur nyenyak. Tentram. Damai.
Tak ada lagi beban. Tak ada lagi keringat. tak ada lagi air mata.
Untuk selama-lamanya