Sahabat, sesuatu yang ‘terberi’ kah?

Setiap orang pasti punya definisinya sendiri tentang arti sahabat. Ini benar-benar hal yang bersifat bebas, siapapun berhak menentukan siapa yang layak disebut sahabat bagi dirinya sendiri.

Tapi sekarang, coba deh kita sama-sama membayangkan wajah-wajah sahabat kita masing-masing!

Coba inget-inget lagi kenapa kalian bisa bersahabat sekarang ini?

Gw yakin banget, pasti sahabat-sahabat kita yang sekarang, kalau ga temen sekolah (TK-Kuliah), teman main dari kecil,  sepupu kita sendiri, teman kantor, atau hal lain yang sejenis.  Apapun itu, pastinya sahabat kita saat ini merupakan orang-orang yang berada dalam lingkungan kita sendiri, iya kan?

Kalau sudah begitu, apa iya sahabat kita saat ini merupakan suatu hal yang sudah digariskan?

Kalau memang iya, rasanya lucu juga. Pasalnya gw sering banget nemu kasus, dimana suatu kelompok yang bersahabat menjelek-jelekan sekelompok  lain yang juga bersahabat. Heboh banget deh pastinya. Kita sendiri juga sering ngalamin deh pasti, lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen se-geng (SAHABAT) terus ngegosipin si A, si B, si  C, dan si si lainya.

Bilang dia freak lah, stylenya kurang oke lah, badannya yang bau lah, sombonglah, dan lain ‘lah’ sebagainya.

Apa sih yang gw maksud sebenernya dari pergosipan panjang lebar di atas?

Well, maksud gw, kenapa sih kita cenderung terlalu posesif dengan sahabat-sahabat kita sendiri? bahkan ada loh sekelompok orang tertentu merasa bahwa orang lain di luar diri (kelompok) mereka adalah orang-orang yang aneh, bahwa kita lah yang paling berkuasa, dan mereka adalah orang-orang yang wajib kita tindas! (berlebihan sih), tapi kurang lebih begitulah fenomena ‘geng’ yang sempat mengisi kolom-kolom berita di berbagai surat kabar.

Sebenernya, kalau mau kita pikir-pikir ulang, kita bisa dekat dengan sahabat-sahabat kita sekarang toh karena kebetulan kita dipertemukan, diberi kesempatan lebih untuk mengenal mereka.

Bisa jadi kan kalau ternyata kita dipertemukan dan diberi kesempatan untuk mengenal lebih jauh si frik, si style nya yang kurang oke, si sombong, dan si bau badan , ataupun orang-orang yang sering banger kita hina saat ini, iya ga?.

Oke, memang tidak bisa dipungkiri, selain faktor ‘kebetulan’ tadi, pilihan kita sendiri juga berperan sih dalam menentukan sahabat kita sendiri. Contohnya aja di kampus kita di kasih kesempatan untuk mengenal ratusan orang, tapi hanya segelintir orang yang menjadi dekat dengan kita. Ini tidak lepas dari keputusan kita pribadi lepas pribadi dalam memilih siapa yang mau kita dekati. Mungkin karena kita merasa cocok karena kesamaan kita, mungkin karena ada ketertarikan fisik, dan lain sebagainya.

Namun balik lagi, kalau kesempatan yang kita miliki berbeda dari apa yang telah kita alami, bisa saja kita justru bersahabat sama mereka yang sering kita gosipkan. Karena toh, kita ga bisa berbuat apa-apa kalau ternyata kita ditakdirkan untuk dekat dengan mereka.

Intinya apa?

jangan terlalu sering menjelek-jelekan orang lain, toh itu hanya kebetulan mereka bukan teman curhat atau sahabat kita.

Tapi, gw bersyukur banget kok sama sahabat-sahabat gw saat ini. Karena gw yakin, mereka adalah orang yang terbaik yang diberikan! ( loh, ga nyambung ya?) hehe.

Tapi (lagi) yang jelas, gw akan berusaha untuk menerima orang lain apa adanya, siapa yang tau kalau ternyata mereka justru orang-orang yang menyenangkan? hehe. Makanya jangan komentar sebelum di’coba’. :p

“   If you judge people, you have no time to love them.”
- Mother Teresa

“If you judge people, you have no time to love them.”
– Mother Teresa

“I will speak ill of no man, and speak all the good I know of eve

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.