Sepenggal cerita seorang manusia yang genap 20 Tahun.
“ Hmm . Aku berusaha mengambil nafas dengan sangat dalam. Menghembuskannya perlahan. Mencoba menangkap dan memahami realitas yang terjadi!.”
Akhir-akhir ini memang berat. Aku tidak tahu apakah yang kualami ini sungguh berat atau hanya perasaanku saja yang terlalu subjektif, dalam arti berusaha mengasihani diri sendiri. Entahlah, tapi yang aku tahu hanyalah bahwa banyak orang bahagia, banyak orang tertawa, banyak orang menikmati hidupnya, tapi bukan aku.
Mereka. Yah aku menyebutnya mereka, bukan kami apalagi kita, karena aku tidak terlibat di dalamnya. Ironis memang ketika aku dikelilingi oleh orang-orang yang terlihat begitu menikmati hidupnya, sementara aku tidak.
Tidak. Apakah itu kata yang tepat? Atau kuganti saja dengan kata belum?. Entahlah, berharap terlalu lama membuatku menjadi terlalu apatis. Realistis kah ini?
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Masih terjaga, bahkan tak terbesit sama sekali untuk pergi terlentang. Hanya duduk di sini, di ruangan mungil berukuran 4 X 4, dengan laptop persis di depan mata sembari menyeruput secangkir kopi yang selalu setia menemani.
Pikiran penuh dengan berbagai hal. Mereka menekan, membuat sesak, membuat sakit. Rasa ini tak karuan. Ingin rasanya mengadu, berteriak dan menjerit. Yah kurasa id sedang berusaha menyalurkan energinya yang melimpah, namun super ego yang sok bijak itu berusaha menahan. Jadilah ego ku ini sakit dan sesak. Bahkan kini aku jauh lebih memahami mengenai korelasi antara proses kognitif dengan emosi dibandingkan para professor ilmu tingkah laku itu.
Tapi realitasnya kini aku sendiri, di sini. Dalam kondisi yang sulit untuk dijabarkan karena super ego yang berkata : “Jangan Permalukan dirimu dengan aib yang kau punya!”. Tapi apa daya, terkadang energi id memang terlalu besar sehingga dia terlalu kuat untuk berontak keluar. Jadilah aku di sini, ingin menyalurkan sebagian kecil dari id yang berhasil memberontak dalam kondisi yang tersamar sebagai bentuk dari defense mechanism melalui sebuah tulisan.
Percaya atau tidak, rasanya mood benar-benar memiliki korelasi yang sangat negatif secara signifikan terhadap menulis, setidaknya inilah yang terjadi pada diriku: “Semakin buruk kondisi ini, semakin segera rasanya aku ingin menulis, menuang apapun yang ada dalam benak”. Yah, paling tidak hanya sekedar berbagi sesak, karena lidah ini sangat sulit untuk mengucap, karena menulis membuat ku sedikit aman, bisa membuat yang terbuka menjadi tertutup dengan berbagai makna tersirat. Ya, karena setiap goresan sarat Akan makna yang mungkin tak selalu bisa kau pahami.
Ahahaha. Rasanya aku ingin tertawa atas semua yang telah terjadi kini. Terkadang aku berpikir untuk bisa menghentikan waktu yang berputar, sesaat saja lamanya. Supaya aku bisa teriak keras, mengkatarsi segala yang telah terpendam bertahun-tahun lamanya. Di waktu yang lain aku berpikir untuk bisa mengutar kembali waktu, memperbaiki apa yang sudah terlalu rusak, mengobati setiap luka yang tergores, menghapus setiap tangis yang jatuh, mengekspolarasi lebih lagi segala potensi yang terpendam. Andai saja.
Kenyataanya itu semua mustahil. Kenyataanya, mau tidak mau. Suka tidak suka. Semua ini harus aku hadapi, karena itulah hidup, “Bukan kah begitu, Jendral!.”
Well, Bagiku hidup itu rumit. Alurnya sangat sulit untuk aku pahami, sulit untuk terdalami. Seringkali aku berusaha memahaminya secara menyeluruh, tapi yang dapat kupahami hanyalah setitik berdasarkan pemahamanku sendiri.
Dari mana pemahaman itu muncul? Mengapa setiap manusia memahami hidupnya dengan caranya yang berbeda? Mudah sekali menjawabnya : Karena setiap manusia melalui pengalaman hidup yang berbeda, sehingga skema yang terbentuk tentang apa itu hidup tentu saja berbeda. Makanya tak heran mengapa Freud, Jung, Fromm, Adler, May, Rogers, dan segudang tokoh kepribadiannya mendefinisikan hidup dengan cara yang berbeda, berdasarkan latar belakang yang mereka alami.
Ya. Lantas yang bisa kulakukan saat ini hanyalah mencoba menjalani hidup dengan apa yang kupahami saat ini: Bahwa hidup ku bukanlah cerita cinta. Hidupku bukanlah tentang pengalaman dalam mengelilingi dunia. Hidupku bukanlah tentang segudang prestasi dan talenta yang aku miliki. Hidupku bukanlah tentang terlalu banyak tawa. Hidupku bukanlah tentang deru dan dera dalam berjuang untuk hidup. Hidupku hanyalah tentang keluarga, dan segala duka-sukanya. Dan aku menerimanya, aku mencintainya, aku memahaminya. Hanya karena aku bukanlah satu-satunya orang yang mengalaminya. Banyak orang yang mengalami nasib yang serupa. Kami (Kita) hanyalah segelintir orang yang terpilih untuk mengalaminya . SENYUM.
PS: Hari ini aku genap berusia 20 Tahun.
id : Energi yang hanya bertujuan memenuhi kepuasaan.
ego: perantara antara id dan superego.
superego: yang ideal, yang sempurna. berbeda dengan id, dia adalah sosok yang menjungjung tinggi nilai moral.
(Teori Sigmund Freud). baca ini